Sejarah Kerajinan Perak di Kotagede Yogyakarta

21 April 2018 - Kategori Blog

MENYAMBANGI Yogyakarta rasanya kurang bila tak bertandang ke daerah yang menjadi sentra kerajinan Perak, Kotagede.

Salah satu daerah yang terletak di Bantul, Yogyakarta ini bukan hanya sekedar menjadi pusat bagi orang-orang yang sedang ingin berburu perhiasan atau perabotan perak.
Kotagede juga memiliki nilai sejarah tersendiri serta sebab musabab menjadi sentra kerajinan perak. Menurut Nia Wahyuningsih, pengrajin perak di HS Silver Kotagede, dahulunya daerah ini adalah ibu kota Kesultanan Mataram, namun akhirnya terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta.

“Konon katanya, saat Kesultanan Mataram masih berjaya di wilayah Kotagede, para raja sangat menyukai perak. Akhirnya rakyat diperintahkan membuat perhiasan perak dan jadilah sampai sekarang berkembang, turun temurun pengrajin perak hadir di Kotagede dan sekaligus menjadikannya pusat kerajinan perak di Yogyakarta,” bebernya.

Namun menjadi pusat kerajinan Perak bukan berarti tanpa kendala. Ada beberapa hal kerap dialami pengrajin mau pun pengusaha kerajinan Perak.

Diakuinya kepada Okezone, seringkali kesulitan dalam menjajakan produknya. Pasalnya, banyak masyarakat yang mengira perak merupakan perhiasan yang tak terlalu mahal seperti emas pada umumnya.

“Banyak orang antusias sama perak karena selalu berpikiran tidak bisa beli emas ya sudah beli perak saja, setelah ke showroom melihat produk dan harganya mereka kaget, mundur tak jadi membeli karena merasa terlalu mahal,” lanjutnya lagi.

Padahal rata-rata pengrajin menghasilkan viligri (perhiasan dari benang Perak-red) yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, kecermatan serta emosi.

“Jika mereka (pengrajin) salah dalam membentuk maka harus dilebur dan di ulang lagi. Bisa dibayangkan betapa susah dan lamanya dalam membuat perak,” paparnya.

Selain itu, kunjungan wisatawan mancanegara juga kian merosot. Seiring dengan naiknya eksport berpengaruh juga pada bahan baku yang kadang mahal.

“Tenaga pengrajin kian berkurang. Kami sepertinya terancam tidak ada regenerasi karena yang muda jarang menekuni profesi ini karena butuh kesabaran, itu yang susah dicari pada pemuda zaman sekarang, apalagi menjadi pengrajin harus memahami betul ilmunya. Di jaman sekarang ini jarang yang mau belajar,” keluh Nia.

Sebagai informasi, jika ingin mengunjungi sekaligus berburu perhiasan atau perabotan Perak di Kotagede maka kamu bisa memiliki banyak pilihan.

Salah satunya, dari Bandara Adi Sucipto menuju terminal Giwangan atau Malioboro. Dari sana, kamu bisa menaiki angkutan umum dengan nomor trayek 3A dan 3B TransJogja dengan tarif Rp3 ribu saja. (sumber : okezone.com)

There are no comments yet, add one below.

Berikan Komentar/Review Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Form yang wajib di isi ditandai *

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter